Jambi merupakan sebuah wilayah di Pulau Sumatra yang menyimpan kekayaan narasi masa lalu yang sangat mendalam. Di tahun 2026, eksplorasi terhadap warisan budaya ini tidak lagi hanya dilakukan melalui buku teks atau kunjungan museum konvensional, melainkan melalui aktivitas otomotif yang dinamis. Kegiatan Mengarungi Sejarah Jambi menjadi sebuah konsep perjalanan yang menggabungkan kecanggihan mesin motor besar dengan napak tilas peradaban Melayu kuno. Bagi para pecinta roda dua, rute ini menawarkan lebih dari sekadar aspal yang mulus; ia menawarkan perjalanan melintasi waktu.
Pusat dari perjalanan ini adalah aktivitas Riding Moge yang mengambil jalur menyisir aliran sungai terpanjang di Sumatra. Sungai Batanghari bukan sekadar badan air, melainkan urat nadi transportasi dan perdagangan sejak zaman Kerajaan Melayu hingga Kesultanan Jambi. Di tahun 2026, pemerintah daerah telah merevitalisasi jalur inspeksi dan jalan provinsi yang berada di Sepanjang Tepian Batanghari, menjadikannya rute yang sangat ideal bagi kendaraan berkubikasi besar. Jalanan yang lebar dengan pemandangan aktivitas sungai yang sibuk memberikan sensasi berkendara yang kontemplatif namun tetap memacu adrenalin.
Titik awal perjalanan biasanya dimulai dari pusat kota Jambi, tepatnya di sekitar Jembatan Gentala Arasy. Dari sini, para rider akan memacu mesin mereka menuju arah hilir maupun hulu, singgah di berbagai situs bersejarah yang tersebar di pinggiran sungai. Salah satu destinasi wajib dalam rute sejarah ini adalah Kompleks Candi Muaro Jambi. Menempuh perjalanan menuju situs ini dengan menggunakan Moge memberikan perspektif unik; suara mesin yang berat seolah berpadu dengan keheningan candi bata merah yang megah. Di sini, para pengendara seringkali berhenti sejenak untuk mengagumi arsitektur masa lalu yang masih berdiri kokoh, membuktikan bahwa Jambi pernah menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan di Asia Tenggara.
Memasuki tahun 2026, infrastruktur pendukung di Jambi semakin memanjakan para pelancong otomotif. Banyak spot perhentian (rest area) yang didesain dengan arsitektur rumah panggung khas Jambi, memberikan ruang bagi para pengendara untuk beristirahat sambil menikmati kuliner lokal seperti Tempoyak atau Ikan Bakar sungai. Interaksi antara rider dengan masyarakat lokal di tepian sungai menciptakan suasana yang hangat. Masyarakat Jambi yang sangat menghargai sejarah merasa bangga ketika para tamu dari luar daerah datang untuk mempelajari sejarah mereka, meskipun dengan cara yang modern menggunakan kendaraan mewah.
